Cerita Dewasa Kenikmatan Sex Mona Yang Semok

Cerita Dewasa Kenikmatan Sex Mona Yang Semok

Posted on

Cerita Dewasa Kenikmatan Sex Mona Yang Semok | “Add aja aku di bee talk. Monalissa, panggil aja Mona..” Begitu pesan singkat dari PM nya di sebuah forum. Mona, nama yang menarik. Monalissa. Misterius. Entah itu nama dia sebenarnya ato alter ego yang ia pakai. Bukan bagianku perihal mencari kebenaran hal itu. Dia membalas PM ini sudah cukup. Aku sendiri sudah cukup lama mampir di forum ini.

Cerita Dewasa Kenikmatan Sex Mona Yang Semok Cerita Dewasa Kenikmatan Sex Mona Yang Semok Cerita Dewasa Kenikmatan Sex Mona Yang Semok 71

 

Cerita Dewasa Kenikmatan Sex Mona Yang Semok | Forum dewasa yang entah sudah sejak kapan aku mengenalnya. Hingga suatu ketika Aku membuka sebuah thread yang aku lupa judulnya. Baru kusadari pencerita adalah wanita. Hal yang aku kurang suka sebenarnya. Entah kenapa. Kulihat akun pembuat cerita. Dari nama akun aku merasa ia seorang wanita. Lalu aku coba menyapanya. Melalui PM tentu saja dan seperti biasa.

Tak ada balasan. Aku tak pernah benar benar beruntung dengan wanita. Tertawa aku dalam hati. PM pertama entah kapan itu aku sudah lupa. Tak perlu pula diingat. Hingga beberapa hari yang lalu. Aku bertemu dengan thread yang ditulis oleh akun *******. Kucoba lagi kali ini. Mengirimkan PM, dan berharap ia mau membalasnya kali ini. Ajaib! Sehari atau dua hari kemudian ia membalas. Pendek memang. Cukup “Ya”. Tapi itu memacu semangatku. Tak ada jawaban spesifik yang aku harapkan memang. Karna aku yakin aku bukan lelaki pertama yang sok manis kirim PM tanpa ada anggapan aku tak berurusan dengan nafsu syahwat!. Baiklah fair enough kok kalo dia bakal mikir seperti itu. Tapi balasan singkat itu kemudian melahirkan beberapa PM. Dan kali ini muncul sebuah harapan. Harapan akan jalan aku bisa berkomunikasi dengannya secara normal. Lebih dari sekedar PM yang kurasa tak praktis karena tak memiliki fasilitas notifikasi langsung. Aku berharap bisa ngobrol via chat atau email. Apapun yang kebih direct dari sekedar PM. Tapi kemudian aku tertegun. 3 PM sekaligus?! Baiklah. Sepertinya aku keterlaluan. Tapi, setidaknya aku berekspresi jujur. Aku menulis apa yang aku pikirkan kala itu. Baiklah cukup. PM tlah terkirim. Tak ada guna aku meributkannya. Dan kemudian beberapa hari. Tak muncul juga notif new PM. Sehari dua hari tiga hari! Datang PM kembali. Dengan sedikit ketus dan cuek sebagaimana tokoh yang ia ceritakan dalam thread ia menjawab “semangat banget PM mpe 3″ kondisiku sedang tidak dalam mood komedi kala itu hingga aku menjawab sedikit nada kecewa. Lalu entah kenapa ia kemudian sedikit terbuka dengan menyebut nama dan menawarkan id bee talk.

Baca juga tuliasan cerita dewasa 2015 lainnya seperti: Aku digilir para pemabuk dan Gairah seks ibu muda.

Monalissa. Namanya Monalissa. Dan aku segera mendownload bee talk. Mencari id nya dan ketemu. Kurahap ia segera menerima ajakan pertemananku. Sehari dua hari belum muncul notifikasi dari bee talk. Aku menunggu dengan stalking di thread yang dia tulis. Membayangkan dirinya berbicara denganku. Kesepiankah aku? Se desperate itu aku ingin berkomunikasi dengannya? Dengan orang asing yang sungguh belum kutau apa apa tentang dia? Entahlah. Aku hanya ingin mencari teman bicara. Dan aku memilih dia. Semoga saja ada kesempatan untuk itu. Kubaca perlahan tiap kata yang dia tulis. Aku tidak bisa fokus. Ak hanya membayangkannya. Sosoknya. Bukan, bukan fisik. Tapi eksistensinya di dunia nyata. Sosoknya yang hidup dan memiliki rasa. Yang bisa tertawa dan menangis lalu sedih kemudian bahagia. Hingga suatu hari kulihat notifikasi PM di forum. Kubuka. “Id ber talk mu apa? Ak jarang approve orang soalnya” hahaha, yang kurasakan kala itu seperti bocah mendapat layang layang baru! Atau seperti anak sekolah yang mendapat surat balasan dari wanita pujaannya! Hahahahahaha, iya aku bahagia. Kubalas PM nya memberi tahu id ku. Dan kini aku menunggu kembali. Notifikasi. Sudah tidak sabar.

Mungkin aku yang tidak sabar atau memang dia yang tidak kunjung menerima permintaan teman di bee talk. Tapi terasa lama memang. Menunggu memang membuat semua terasa melambat. Cukuplah akhirnya penantianku. Suatu sore aku mendapati notif dari akun dia. Well well well… Finally i meet her! On chat memang.

Profil pic yang dia gunakan hanya sebuah wajah yang tertutup tangan. Dia menyapa dengan meyakinkan bahwa aku adalah orang yang sama yang mengirim PM di forum. Aku mengiyakan. Dan jawabannya mengejutkanku. “Kalo gitu kamu sedikit dari orang yang pernah lihat wajahku…” Deg..! How lucky i am?! And it’s real! Lalu kemudian yang ada ia mengganti PP. Muncul sosok wanita muda. Duduk dalam gelap. Menatap kamera. Dan gelap membantu matanya berpijar. Menyita segala perhatian siapapun yang menatap foto itu. Aku buka dengan lebih jelas. Benar saja. Ia dianugerahi mata yang indah. Tak perlu banyak bicara, matanya sudah cukup berbicara tetang dirinya. Wanita keras yang tak dapat dibantah. Keras memang. Dan suka memegang kendali. Lucu ketika ia mengatakan bahwa apa yang aku katakan tentang dirinya memang benar adanya. Ah, semua orang akan tahu dan mengatakan hal yang sama ketika menatap foto itu. Kemudian di layar hapeku bermunculan foto foto miliknya. Sesaat ak merasa kewalahan mendapati beberapa foto yang membuat dada dan, yah.. Celanaku.. Sesak.. Aku perhatikan setiap fotonya lagi dan lagi. Damn! How lucky i am..!
Ini bukan tentang foto. Bukan tentang gimana seksi doi. Bukan tentang gimana aku ngebayangin bisa ngga ML ma dia. Ini tentang sesuatu yang menjadi nyata! Panjang ceritanya kalo aku kudu menjelaskan semua dari awal. Tapi semua ini bermunculan dengan ajaib. Semua! Akan aneh jika aku cerita. Baiklah terserah akan seperti apa dimata kalian tentang apa yang aku pikirkan. Akan terdengar lucu. Pertama sosok dia sendiri. Pemilik akun di forum yang dah lama aku baca threadnya. Ak bertanya dalam hati apakah dia sungguh wanita? Dan kini aku bisa bicara langsung dengannya. Bahkan mendengar suaranya. Lalu, bee talk! Aneh, tapi aku sendiri pernah memperhatikan seorang lelaki dalam bis yang memainkan aplikasi tsb dalam bis. Aku bertanya apa yang sedang dia lakukan dengan aplikasi itu? Mencoba mencari peruntungan dengan wanita? Dan sekarang? Aku malah menggunakannya untuk bicara dengan nona ini. Lalu, kawah putih! Rumahnya ada di dekat kawah putih! Oke fine, siapa sih yang gak pengen ke kawah putih?! Tapi ada sebuah memori yang melekat dalam diri ini tentang kawah putih. Emm, sesuatu yang aku gak bisa jelasin. Rasa seolah aku akan kesana. Dan itu rasa ada sejak aku sekolah! Lalu, ah kurasa akan terlalu jauh aku bicara tentang ajaibnya semua ini. Jika semua penjelasan tadi belum cukup menggambarkan keajaiban yang lucu ini. Sudahlah, aku ajak kalian ke lanjutan cerita ini.

Pembicaraan chat kami berjalan menyenangkan. Dan sesekali dia harus berhenti chat. Ada lubang muncul di dadaku. Rindu menggerogoti dadaku. Secepat itu? Yah, secepat itu. Tidak ada alasan untuk tidak merasa nyaman dan senang bersamanya. Walau kadang ia dengan berulang mengatakan bahwa aku akan menyesal ketika benar benar bertemu dengannya. Di membicarakan apa aku tak tau. Secara fisik ia istimewa. Smart. Cuek. Lepas. Entah apa yang ia maksud. Aku tidak khawatir? Tentang pertemuan? Tentu saja aku khawatir. Aku khawatir aku bertemu dengannya dan membuat sesuatu yang merusak mood nya. Karna aku tau, ia begitu keras. Walau ada lembut di balik semua keras itu. Ada, aku merasakannya. Dan aku memang akan menemuinya, disana.

Dan waktu itu sudah dekat. Kami sepakat akan bertemu pada harinyang ia tentukan. Aku bisa izin cuti dan dia bolos kantor. Aku sudah siapin semua tiket dan juga book salah satu hotel rekomendasi dia. Sejak pertama kami sampai pada kesepakatan hari. Aku menjadi aneh. Dan aku memang aneh. Hahahahaha. Setiap beberapa saat aku tertawa sendiri. Rekan sekerjaku menatapku aneh. Aku tau, wajahmu memerah. Bayanganku melayang entah kemana aku tak memintanya pulang. Jika dia hendak mendahuluiku menemui nona cantik ini di sana, dalam mimpinya. Aku rela. Dan akhirnya aku berangkat. Petualangan dimulai.

Tak perlu kuceritakan seperti apa ceritaku selama perjalanan menuju tempat ini. Apapun, smua sudah aku lalui. Dan kini aku ada dalam sebuah kamar kotak. Dengan ranjang empuk. Kotak pendingin udara. Kotak tv. Meja dan kamar mandi. Aku ada dalam hotel. Dan ia dalam perjalanan menuju tempat ini. Belum sempat aku membereskan barang bawaan dan merebahkan diri ke ranjang. Suara pintuku diketuk. Secepat ini? Kemudian yang ada dadaku bergemuruh. Kuakui kakiku melemas. Dan kubuka pintu. Sosoknya. Wanita setinggi pundakku, berkacamata dengan rambut ikal berdiri di depanku. Aku tersenyum kaku. Dan ia membalas senyumku lalu bertanya. “Boleh masuk?” Entah kenapa aku menjadi bisu dan tuli. Hingga ia menyadari dan masuk ke kamarku. Melewati aku yang terpana. Ia, nyata. Nona Mona-ku. Ia nyata.

Aku menutup pintu lalu kembali kedalam. Dia sudah duduk dengan muka manisnya. Tidak se menyeramkan yang di tunjukkan di beberapa foto dan apa yang ia ceritakan padaku. Atau mungkin hari ini mood yang hinggap di benaknya sedang bagus. Syukurlah, aku beruntung. Sedikit kikuk. Tapi aku harus mencairkan suasana. Kuulurkan tangan dengan senyum paling manis yang aku punya. “Hehe, ketemu juga ya akhirnya..” Ia membalas senyum dan menjabat tanganku. “Hehe, iyah.. Gimana jalannya? Capek gak? Engg, trus kami mau tiduran dulu?” Ia menggeser duduknya seolah mempersilahkan aku duduk disampingnya. Dan aku mengkerut, malu. “Lancar kok, Alhamdulillah. Seneng akhirnya aku bisa sampe tanah pasundan. Berkat kamu juga.. Hehe.. Ah enggak, aku mo mandi aja dulu. Bersih diri. Bauk. Takut kamu gak nyaman” sambil aku membuka tas mengambil beberapa barang untuk aku berganti pakaian. Dia memperhatikanku dari tempat dia duduk dan aku belum berani menatap langsung matanya. Mata itu. Akhirnya aku ada di dekatnya. Dan aku masih belum berani menatapnya secara langsung. Masih dengan kikuk. Aku bangkit dan menuju kamar mandi.

Sebelum masuk kamar mandi, entah bagaimana aku menatap kearahnya dan berbicara “Engg, ngga mo ikut mandi?” Deg. Dadaku berderu. Menunggu reaksinya. “Ahahahahahaha, enggak ah aku kan dah mandi..” Senyum itu. Bibir itu. Emhhh.. Sulit aku menjelaskan bagaimana. Mendengar jawabannya aku membalas singkat “Hehe, iya ya dah mandi. Tapi kan tadi gak sama aku mandinya..” Aku nyengir dan langsung masuk ke kamar mandi. Hehehe aku terus nyengir di dalam kamar mandi. Belum sempat mengamati ekspresinya dengan jawabanku. Aku mulai aktifitas mandiku. Sampai sesaat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan sosoknya muncul dibaliknya. Aku nyengir. Diapun demikian. Kami sama sama nyengir. “Ngajak mandi tapi kok ninggal..” Dia membuka lebar pintu. Aku berusaha menyelesaikan mandiku. “Hehehehe, yaa.. Yaaa.. Yaa gimana.. Bentar deh ak dah mo kelar” jawabku masih tetap nyengir. “Ohh, jadi gak mau aku ikut mandi. Gak boleh aku ikut mandi” godanya mendekat ke arahku yang kuyub di bawah shower. “Eh, engg.. Mau kok.. Ntar aja deh tapi.. Hehehe aku dah kelar” kumatikan shower dan memakai handuk. Ia beranjak keluar. Kupasang CD dan Jeans ku. Kaos aku belum pakai. Aku keluar ke arah dia yang duduk nonton tv. Sebenarnya aku bingung harus melakukan apa. Tapi, mengingat waktuku yang tidak banyak aku mulai memaksa diri mencair dari kebekuan. Kukenakan kaos. Mendekat padanya di sebelah ranjang. Dia hanya tersenyum. Apa dia menge-test-ku aku tak tau. Aku tidak tau apa apa rasanya. Aku sudah didekatnya. Dia duduk sedang aku berdiri. “Non, inget dulu aku nanya boleh ngga aku peluk kamu pas ketemu?” Aku nyengir. Dia bangkit. Kemudian membuka tangan menyambutku memeluknya. Hangat. Hangat. Sungguh hangat. Aku pejamkan mata memusatkan seluruh indra perasaku. Seluruhnya. Aku ingin merekam seluruh momen itu. “Senang bisa kenal kamu non. Senang bisa ngobrol ma kamu non. Senang, akhirnya bisa ketemu kamu. Peluk kamu..”

Kulepas pelukan tapi tak melepas tubuhnya. Masih dalam dekapan. Tanganku melingkar di pinggulnya. Pun demikian tangannya. Kini mata kami saling pandang. Akhirnya aku berhadapan dengan mata itu. Entah apa yang ada di pikirannya dengan tatapan itu padaku. Aku menatapnya. Tersenyum, dan masih terus menatapnya. “Gimana? Udah ketemu. Dan sekarang? Gimana sesuai gak sama ekspektasi kamu? Engga kan? Aku gendut.. Gak secakep di foto.. Kecewa kamu ya?” Suara yang keluar dari bibir yang menggemaskan itu. Aku tersenyum. Kulepas pelukan tanganku di pinggulnya. Kupindahkan tangan memeluk lehernya. Kusibakkan rambutnya lalu kutatap matanya sedalam aku bisa mencapai. “Non, kamu pasti juga masih inget aku pernah bilang kalo aku gak akan jelasin gimana rasanya aku menatapi semua foto yang kamu kirim. Karna yang ada semua kata itu akan kau terima sebagai omong kosong. Lebay kalo kau menyebutnya. Maka disini aku sekarang didepanmu yang ternyata masih gak percaya kalo aku bener bener takjub dengan ini semua. Sekarang kamu robek mataku dengan matamu yang tajam dan temukan sesuatu di dalamnya. Lihatlah di balik mataku apa yang aku rasakan ada di dalam sana non. Jika belum cukup, aku hanya bisa menjawab aku seneng bisa ada disini bareng kamu non. Kamu, ajaib!” Entah apakah ia memahami apa yang aku katakan atau tidak. Yang kurasakan dadaku semakin sesak kala itu. Dan wajah kami semakin dekat sampai aku bisa merasakan nafasnya. Ini saatnya. Kupejamkan mata, kukecup keningnya. Dalam. Mesra. Masih dengan tangan memeluk lehernya. Kuturunkan bibir menuju bibirnya. Kukecup pelan bibirnya. Lagi, kukecup lagi. Lagi, kukecup lagi. Perlahan ia membalas lebih kuat. Dan akupun demikian. Kecupan kami tumbuh menjadi lumatan. Wajah kami bergerak sesuai pergerakan bibir kami yang saling melumat. Kulepas perlahan lidahku diantara bibir bagian dalamnya.

Disambutnya dan dihisap dengan kuat. “Emnghhhh… Sllrppshhh… Emmhh… Slpshhh….” Suara erangan kami yang bercumbu terdengar mesra. Tangannya naik ke dadaku. Meremas kepalaku. Menjamahi seluruh tubuh depan dan punggungku. Masuk dibalik kaosku. Kunikmati sentuhannya. Aku sangat suka disentuh. Aku masih khusyuk dengan posisi memeluk lehernya. Aku masih enggan melepas wajah itu jauh dariku. Bibir kamipun sudah kuyup oleh lidah lidah kami yang saling bertautan. Saling hisap jilat dan demikian seterusnya. Nafas kami semakin menderu. Sesekali kulepas ciuman kami untuk menghirup nafasnya. Eerhhhh… Aku suka. Kubuka mata dan tersenyum kecil. Wajahnya sayu. Matanya, teduh. Aku berbisik “touch me please…” Ia tersenyum. Kami kembali berciuman. Kuangkat kaos yang ia kenakan. Dan ia pun demikian. Melepas kaosku. Aku bertelanjang dada, sedang ia masih mengunakan BH. Emmhh… Sedikit gemetar tanganku menyentuh dan membelai dadanya. Kuremas pelan. Kulingkarkan tanganku untuk meraih pengait BH nya. Kulepas dan kakiku melemas. Aku langsung turun menuju buah dadanya yang sungguh sungguh ranum. Kudekap ia dan kujilat putingnya langsung. Aku sudah tak mampu menahan hasrat itu. “Essshhh… Oohhssss….” Ia mendesah dan meremas kepalaku. Aku menikmatinya. Putingnya kuhisap dan kuputar lidahku di ujungnya. Satu tanganku meremas puting yang tak tersentuh lidahku. Sedangkan tanganku yang lain meremas pantatnya. Sesekali kutepuk keras. “Arghhhh… Ssshhh…” Masih dengan bibir di dadanya, tanganku mengarah pada kaitan celananya. Kulepas hingga aku turun kebawah. Ia masih berdiri telanjang menyisakan CD merah. Kupeluk pinggangnya dan kujelajahi selangkangannya dengan lidahku. “Ooorghhhh… Sssshhhh.. Ssshhh….” Aku sangat menikmati aroma yang menguap panas dari kewanitaannya. Aku berniat melepaskan sisa penutup terakhir itu. Namun ia menahan tanganku. Dengan cepat ia melepas celanaku. Dan mendorongku ke arah ranjang. Aku tersenyum. Finnally.

Aku terlentang telanjang sama sepertinya menyisakan CD. Ia mendekat ke arahku. Merayap diatas tubuhku. Ohhh, pemandangan yang sungguh mendidihkan darah kelakianku. Kucoba menahan sekuat tenaga untuk tidak menerkamnya terlebih dahulu. Karna aku sungguh ingin menikmati apa yang akan ia lakukan padaku. Disibaknya rambutnya. Kini ia duduk diatasku. Tepat di penisku yang mulai nyeri karena tegang. Enghh… Aku melenguh ketika ia sedikit menggoyang pinggulnya. Aku bangkit, tak mampu menahan godaan tubuhnya yang mulus dan segar dihadapanku. Aku ingin menjilat habis dadanya, lehernya, bibirnya.. Semua tubuhnya. Aku ingin merasainya. Tapi ia menahanku. Didorongnya aku kembali merebah. “Nikmati dulu yang mau aku kasih…” Bisiknya dan dilanjut ia menciumi bibirku dengan panas. Aku menggeliat. Buah dadanya menekan dadaku dan penisku ditekan vaginanya yang terasa panas dibawah sana. Ourghh… Sshhhh…

Ciumannya terus berpindah. Ke telingaku, turun ke leher.. Ke dada… Dan semua ia lakukan dengan lidah. Emhh rasanya luar biasa.. Geli yang amat sangat dan membuat aku ingin meledak. Mendapat serangan seperti itu aku meremas pantatnya. Kutahan kuarahkan ke arah penisku. Kutekan penisku ke arah vaginanya. Kusalurkan tenaga yanh meledak ledak akibat perlakuannya padaku. Dan yang terjadi jilatannya semakin menjadi. “Oouuhhccssssss… Ahhh… Nonnn… Pleaseee… Don’t stoppphhh… Fuckk… Sssshhhhh… Suka non.. Terusinnnn….”

Entah perasaanku saja atau memang demikian adanya. Eranganku kurasa membuatnya semakin bergairah. Putingku dijilatinya dengan kuat. Sesekali ia menatap ke arahku. Aku belai wajahnya. Mengusap usap rambutnya. Lalu jilatannya menjajah seluruh dadaku, turun ke perut. Berputar putar ia disana dan aku semakin tergila oleh rasa nikmat yang ditimbulkan lidahnya yang membasahi tubuhku.
“hhooookhhhh.. Nooonnnnhhh… Ssshhhh… U doin greaatttt… Oohhhh… Ssshhhh… Terusiinnhhh sayangghhh… Ohhh…”
Wajahnya yang menjelajahi perutku diimbangi tangannya yang menjamah dadaku. Kemudian seketika dengan cepat ia membuka CD-ku. Membuangnya ke arahku. Aku tertawa. Ia menatap sejenak ke arah penisku yang sudah tegang. Tersenyum ia menyeringai. Lalu menunduk mengambil posisi oral. Dan kemudian indra perasaku terpusat pada batang penisku yang menegang. Sslllrrpppsss! Ia memasukkan semua batang penisku kedalam mulutnya. Kemudian menghisapnya kuat dan perlahan mengangkat kepalanya. Dia melakukan dengan pelan sekali sehingga aku merasakan hisapan kuat yang dialami batang penisku. Tanganku mencengkram kuat pundaknya menahan nikmat yang tak terkira. Seingatku tak pernah ada yang memperlakukan penisku sedemikian rupa. Entah apa yang ada di benaknya, ia terlihat begitu menikmati apa yang dilakukannya. “Oorkkhhhhhh…. Nonnnnnn!” Badanku melengkung dibuatnya. Plop! Lepas kemudian penisku dari mulutnya. “Hmmhh hhh… Heheehe, suka?!” Ia bertanya dan aku menjawab lemah… “Bangeeethhh….”

Ia melanjutkannya kemudian. Sekarang ia menjadikan kepala penisku sebagai sasaran. Dijilatinya dengan buas lalu jilatannya turun ke pangkal penisku. Naik hingga ke ujung lalu di masukkannya lagi seluruhnya kedalam mulutnya. Jemarinya menggelitik pangkal buah pelirku. Sesekali menjamah lubang analku. Fuck! She have a great talent on this way! Aku bener bener dibuatnya merem melek oleh kenikmatan layanan oralnya. Ia menaik turunkan kepalanya dengan cepat dan sesekali melambat dibarengi hisapan yang kuat. Ohhhh… Manusia dari planet mana dia ini. Sebegitu nikmat cara dia mengoralku. Sejujurnya aku adalah orang yang tidak yakin bahwa oral dapat membuat seorang lelaki orgasme. Karna aku belum pernah mengalaminya. Tapi sekarang, ia seolah menyalakan sumbu ledakku. Apakah aku akan meledak terlebih dahulu aku tak tau. Ak masih belum mampu melihat batas puncak ku. Aku memejamkan mata menikmati panasnya gelora dan sentuhan lidah dalam mulutnya yang menjajah penisku. Kusibakkan rambutnya. Lalu kugoyangkan penisku dalam mulutnya. Ia mandah saja memberiku kesempatan mengekspresikan nikmat ini. Matanya semakin sendu. Dan dari posisi aku melihat nya dimana rambutnya kusibak dalam remasan tanganku, timbul keinginanku menembakkan seluruh sperma yang ada pada wajahnya. Entahlah apa aku akan melepaskannya sekarang. Aku terpejam kembali dan melepaskan tanganku. Kini dia sepenuhnya berkuasa atas tubuhku.

Kocokan mulutnya pada penisku menimbulkan suara yang khas. Keringat mulai meleleh dari tubuhku. Dahiku basah, rambutku kuyup. Aku semakin mendesah dengan gila. Dan itu seolah menjadi bahan bakar gairahnya. Entah berapa lama ia melakukan oral paling gila dalam hidupku itu. Kelihatannya ia mulai lelah. Maka langsung aku memutar tubuhnya. Dengan cepat aku bangkit dan membuka CD warna merahnya. Lalu terbukalah semua. Aku mendapati vaginanya yang basah menggodaku. Aku lapar sekali. Kubuka pahanya dan segera kuseruput vaginanya. Sassllrrpppssss! Kuhisap dan kujilat vaginanya yanh basah. Kujilat klitorisnya dengan cepat. “Aaaiiihhhh… Shhh yaaahhh… Ohhhh…” Kulepas tanganku di pahanya sehingga kini kepalaku terbenam dalam dekapan pahanya. Aroma kewanitaan yang dimilikinya membiusku. Aku semakin gila. Kususupkan tanganku ke pantatnya. Kuremas kuat lalu bersamaan dengannya ku hisap dan kujilat keras vaginanya. “Uuuurgghhhhhh! Yyyeahhhhh….” Tubuhnya melengkung dan aku semakin kuat mencengkram pantatnya.
Kujilati dengan cepat dan kuat. Semakin kuat dan kuat. Entah kenapa aku merasa begitu lapar. “Ahh ahhh ahhh ahhh… Hohhh….” Rambutnya kacau oleh gerakan kepalanya yang menggeleng ke kanan ke kiri. Kemudian ia menarik tubuhku. “Kita awalin dulu yah.. Pake kondomnya…” Ia berbisik cepat. Panas. Aku memberikan sebuah kondom dan tersenyum “pasangin ya non…” Lalu kukecup dan kulumat bibirnya. Ia mendorong pelan tubuhku lalu aku terbaring sedangkan ia memasangkan kondom pada penisku. Lalu ia mengangkangi tubuhku, perlahan ia arahkan penisku ke vaginanya. Pelan, pelan, enghhkhhhh.. Kami mendesah hampir bersamaan. Lalu dengan sedikit dorongan pinggulki dan goyangannya, penisku akhirnya terbenam dengan utuh. Tenggelam dalam lubang panas miliknya. Kami terdiam sejenak. Lalu ia mulai menggoyang pinggulnya maju mundur. Sesekali naik turun. Sesekali memutar. “Ooorghkkkkhh… ” aku mendesah parau. Pemandangan didepanku sangat menggoda. Tubuh sempurna ini meliuk menggoyang penisku. Aku tak sanggup hanya melihat saja. Bangkit badanku memeluknya. Menciuminya dengan liar dan ia membalas dengan jilatan lidah ke seluruh wajahku. Kuremas dadanya yang sekal. Kujilati lehernya. Kuciumi. Tapi aku tidak mencupangnya. Aku tahu diri. Pelukan dan ciumanku dibalasnya dengan goyangan dahsyat yang membuat peluh kami semakin deras menetes. Kusibakkan rambutnya lalu kuciumi wajahnya. Kujilati telinganya. Sementara di bawah penisku diperasnya. Gilak!
“Hohhh…hojhh…hohhhh… Ohh yeahssss….” Kami mendesah dengan bahasa kenikmatan. Tubuh kami semakin panas dan kami terus berpacu mendorong jantung kami berdetak lehih kencang. Sensasi yang aku rasakan sungguh tak ter terjemahkan dalam kata. Kutarik rambutnya kebelakang hingga aku bisa menikmati lehernya dengan puass… Lalu aku turun ke dadanya menghisapnya.
Ohhh ohhh ihhh…
Badan kami sudah basah kuyup. Kuhentikan gerakanku. Kupeluk tubuhnya lalu ak membisikkan sesuatu “nona, kau sungguh luar biasa…” Dengan nafas yang terengah kami saling melempar senyum.
“Kita coba doggy boleh non?” Ia hanya mengangguk dan mengambil posisi tengkurap dengan lutut ditekuk dan pantat menonjol keatas. Darahku kembali berdesir menatap pemandangan ini. Kemulusan tubuhnya dengan pantat yang penuh menjepit vaginanya yang gemuk. Oh my…
Kukocok pelan penisku dan kuusap-usap vaginanya yang basah. Kami sama-sama mendesis. Belum juga aku melakukan penetrasi. Aku tertarik dengan bongkahan pantat yang meruntuhkan pertahanan imanku. Kudekatkan wajahku, lalu kujilat lubang pantatnya dan tanganku meremas bongkahannya. Kaget nampaknya dia. “Ihhh… Sshhhh… Apaaan inihhh… Ouuuuchhh… Shhhh…”
Aku melanjutkan jilatanku di lubang anal-nya. Jemariku meremasi vaginanya. Hingga yang tersisa hanya suara desahan wanita luar biasa ini.
“Oohhh… Eenghhh… Shhhh yhhhssss… Oohh….”
Dan terus kulakukan hingga ia memintaku melanjutkan penetrasi. “Penismu sayang… Penismu… Tolong….ssshhhh ohhhh….”
Kuangkat kepalaku, kudekatkan pinggulku ke arah pantatnya. Lalu kutekankan penisku ke vaginanya. Sekali tekan kali ini. Sllepppp… “Ooouchhhhssshhhh…. Ahhhhh… Nonnnnn….” Aku melenguh dan tersahut oleh desahannya “aaakkkkhhhh….”
Kubiarkan penisku didalam. Terasa vaginanya meremas remas penisku. Kucengkram pantat sintalnya. Kuletakkan lututku dengan pas. Lalu mulai aku menarik dan mendorong penisku. Pelan, pelan, lalu mulai kupercepat tusukanku. Tusukan dalam yang cepat. Sangat cepat hingga tubuh kami bergetar getar. Pantatnya kutampar berulang ulang. Sensasi posisi ini membuatku sungguh lupa segala. Teriakan pendek dan lenguhan kami mewarnai ruangan yang semakin panas oleh hasrat kami.
“Aauiuchhh! Auuuxhh! Fuckkk meeee! Yaahhh!” Suaranya memburu nafsu.
Sedang aku yang terus mengocok lubangnya semakin basah oleh peluh. Kutampar lagi pantatnya. Dan kemudian spontan aku melubangi pantatnya mengggunakan telunjukku. Mungkin aku sedikit kasar karna nafsu. Kumasukkan jariku ke dalam lubang analnya. Tubuhnya melengkung. Yang kusambut dengan tangan kiriku. Lehernya kutahan. Kubelai rambutnya lalu kuremas rambut tebal itu. Kini posisi kami yang doggy semakin eksotis dengan tubuhnya yang melengkung kearahku dan penisku yang mengocok kencang vaginanya ditemani jari telunjukku yang menjejali lubang analnya. “Ahhh ahhh ahhh ahhh ahhh ahhh ahhh ahhh ahhh ahhh!” Aku suka mendengarnya mendesah dan melenguh kencang.
Kulepas telunjukku dari pantatnya. Lalu kucengkramkan kedua tanganku di bongkahan pantatnya. Aku bersiap untuk menyudahi posisi ini. Kudorong kasar pantatnya dengan pinggulku. Penisku menyeruak kembali kedalam vaginanya yang semakin basah oleh lendir lendir nikmat. Kutarik lalu kudorong lagi kuat. Kemudian kupercepat dan cepat. Lali menjadi sangat cepaattt! “Aaaaaaarrhhgggghhh!” Kami berteriak lalu dengan sekali sentak kudorong sedalam mungkin penisku ke rahimnya. Lalu aku diam seketika. “Aaaarghhhh… Hhhsshh… Hhsshhh… Hshhhh…. Hhh” nafas kami berdua seirama tersenggal kenikmatan.

Hhh…hhh.. Nafas kami masih menderu. Kami sama sama terdiam. Kulepas penisku dari vaginanya. Aku merebahkan diri disampingnya. Tubuhnyapun ambruk disampingku. Lalu merayap pelan di atas dadaku. Dan berbisik “kamu… Gila!” Kami tertawa lalu kupeluk lehernya dan kulumat bibirnya yang menggemaskan. “Hmmmhhhh… Hmmmmm….” Kami menggumam.

“Kamu kuat juga, makan obat tadi?” Tanyanya diatas dadaku.
“Hehehe, entahlah.. Sedang beruntung aku nampaknya si joni belum juga meledak. Atau mungkin karna kondom. Karna aku sendiri belum pernah keluar pas pake kondom…” Aku membelai rambutnya. Kepalanya tiba-tiba meringsut manja di dadaku. Aku memejamkan mata. Merasakan romansa, walau mungkin hanya aku yang merasakannya. Kubelai rambutnya lalu kuangkat wajahnya dan kuciumi kembali. Memanaskan bara kembali. “Ganti aja ya non kondomnya. Dah gak enak, pasang yang baru aja” pintaku. Tersenyum ia, kemudian mengambil sebuah kondom. Melepas yang menempel di penisku. Sebelum memasangnya ia menyempatkan mengulum penisku supaya kembali tegang maksimal. Serrrr… Darahku berdesirr..
Matanya yang tajam menatapku sambil mulutnya mengulum penisku. Ahhh, mata itu. Aku bisa muncrat jika kupandangi terus pijar mata yang ia miliki. Sungguh, seandainya kalian melihatnya kalian akan merasakan hal yang sama. Matanya sungguh tajam dan menggoda. Seolah ia sendiri yang memerintahku untuk terus bercinta. Dan aku sangat menyukai matanya.
Kondom tlah terpasang. Ia kembali mengangkangiku dan bersiap memasukkan penisku kedalam vaginanya. Aku mencegahnya. “Berputar ya non, kamu membelakangiku” ia mengerti maksudku. Ia memutar tubuhnya membelakangiku dengan tetap berada diatasku. Diangkatnya pantatnya dan penisku yang tegang sempurna perlahan ditelan oleh vaginanya yang panas. “Eeenghhhhh…..” Kepalanya mendongak merasai penisku dalam tubuhnya. Dan aku mendapati suguhan yang istimewa. Tubuh mengkal-nya membelakangiku. Merajaiku. Kepalaku seolah ingin meledak oleh suguhan ini. Kupegang erat pinggangnya dan ia mulai memompa penisku. Menggoyangkan pinggulnya sekehendak hatinya sedang aku pasif menerima goyangannya. Pemandangan ini sungguh membakar dada. Hampir hampir aku tak sanggup ingin menerkamnya saja dan memompa vaginanya sekencang aku bisa. Tapi aku membiarkan posisi ini semampu aku untuk menikmati sensasi yang tiada tara. Cukup lama ia menggoyangku dalam posisi ini lalu kurasa ia mulai lelah. “Berenti dulu non.. Angkat dikit pantatnya..” Aku berbisik dengan nafas tersenggal. Kedua tangannya menopang tubuhnya. Sedikit berjongkok posisinya diatasku. Penisku kuarahkan ke vaginanya. Perlahan kulesakkan dari bawah menembus vaginanya. “Ahhh!” Ia mendesahh manja. Setelah pas berada dijalurnya, kudorong dan kutarik dengan cepat. Aku mengocok vaginanya dari bawah. Reaksinya sungguh luar biasa. Kepalanya terlempar ke kanan dan ke kiri. Tangannya meremasi dadanya sensiri dan sesekali mengacaukan rambut ikalnya. Aku memejamkan mata untuk mengerahkan tenaga. Kutambah kecepatan kocokanku. Kepalaku semakin panas. Penisku ngilu tapi aku tak bisa berhenti. Kenikmatan ini tak ingin kutunda dan semakin ingin kubakar saja. “Ahhh! Aahhh! Aahhhh! Aahhh!” Begitu suara teriakannya. Sedanh aku mendesah “hmhh hmhh hmhh!” Mengkonsentrasikan penuh pada tusukanku. Sesekali kuhentikan kocokan kencangku dan menggantinya dengan tusukan tunggal yang kasar lalu kusambung dengan tusukan kencang kembali. Entah pada menit keberapa reaksinya menjadi gila. Aku merasa orgasmenya akan tiba. “Ahhhh! Aahhh! Gilakk! Nikmatt banget! Terusinnn! Siallaannn! Terusinnnhhhh…. Ohhh ohhh ohhhh….”
Tak ingin melewatkan momen emas ini, kuputar tubuhnya dan dengan cepat kondom kulepas dan segera menidihnya. Kugoyang dengan cepat dan lehernya kuhisap. Dadanya kuremas remas sedang pinggulku tak berhenti memompa dengan keras.
“Oohhh fuckkk! Ampiirrr! Hampirrrr! Hampirrrr… Kencengin lagiiiii!”
Aku seperti kesetanan mendengar semua itu dan yang terjadi aku memompa dan menghentak kasar penisku dalam vaginanya. Semakin cepatttt dannnn….
“Aaaaaaaaaargghhhh! Aaarrghsssssss! ” tubuhnya melengkung tapi pinggulnya menyodok nyodol ke arah penisku. Ia orgasme! Kupercepat kocokanku dan kuhentak penisku keras dan dalam lalu kupeluk erat tubuhnya yang sintal.
“Hooorrhhhsssshhh…. Hhsss…” Ia menikmasi sisa orgasmenya.
Tanpa meminta izinnya aku lalu mengejar ketertinggalan. Kondom telah lepas dan aku sudah merasa sumbu ledak telah dekat. Kucium bibirnya dan kukocok kembali vaginanya dengan peniskuu.. “Maaf non, dikit lagiiihhhh oiurghhhh…” Aku mempercepat kocokan.
“Iyahh… He ehh… Terusinnn… Keluarinnnm…” Tangannya mendekap pantatku menariknya ke arah vaginanya.
Benar saja, aku meledak! Kulepas tusukanku dan kuremas kuat penisku… Kupeluk tubuhnya semampuku dan croottt… Crottt… Crottttt…. Penisku melepaskan sperma diatas perutnya sementara aku ambruk diatas tubuhnya. Kami sama sama terengah-engah. “Hhasshhh… Hhh…hhhh..hhhh”

Tubuh kami kembang kempis oleh nafas yang memburu.. Kemudian semakin melemah…
“Ahhhh…..” Aku ambrukkan tubuhku disebelahnya..
Kupandangi wajahnya. Tersenyum ia dengan wajah sayu. Matanya memancarkan gairah yang tak kunjung padam. Aku tersenyum. “Gilak… Hhhshh…. Hhhh…” Ia menjawab…”iyah… Keren…”

Kubersihkan sejenak perutnya menggunakan tissue, dan demikian pula tanganku. Setelah itu kudekatkan wajahkunke wajahnya. Kukecupi dahi dan bibirnya. Aku merebahkan diri di dadanya. Hhh…hhh… Sisa nafas pertempuran masih ada. Aku berniat mengajaknya mandi. “Non, kita mand…”

Belum sempat aku menawarkan maksudku, tiba tiba pintu kamar terdengar gaduh. Ada suara lelaki memanggil. Wajah kami panik. Suara semakin keras dan yang terjadi kemudian adalah badanku tergetar-getar dan suara suara penggilan itu semakin jelas. Aku dibangunkan wawan temen kerjaku.

BANGSATTTTT! Ini tadi cuman mimpiii?! Sialannnn! Kutengok celanaku basah! Shiiiitt!

Kulihat hape, sekitar 10 notif chat dari dia. Peluhku ternyata nyata. Dan dia pasti tertawa ketika tahu aku sudah keburu mimpi bercinta dengannya sebelum jadwal pertemuan kami nantinya. Sekian cerita dewasa terbaru 2015 kali ini!

Incoming search terms:

  • Cerita Sex mona
  • cerita dewasa mona
  • cerita seks mona
  • cerita sek hot mona si petualang ngentot
  • cerita seks mona sexy
  • Cerita seks di kawah putih
  • cerita panjang bee sek
  • cerita panas mona
  • cerita ngewe mona
  • tantemonasex

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *